BAB I
DESKRIPSI
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Pendidikan merupakan sesuatu yang kompleks, rangkaian tersebut merupakan kegiatan komunikasi antar manusia, sehingga manusia tumbuh dan berkembang sebagai individu yang utuh. Belajar merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang menetap, sedang perubahan tingkah laku atau hasil belajar dipengaruhi beberapa factor sebagai berikut :
1. Faktor Internal, meliputi : kecerdasan, bakat, minat, motivasi, emosi, kemampuan kognitif, kematangan, sikap, kondisi fisik, dan kesehatan.
2. Faktor Eksternal, meliputi : lingkungan alam, fisik, dan sosial, materi kuliah, metode mengajar, sarana dan prasarana, dosen/pengajar.
Pada umumnya prestasi yang tinggi menunjukkan kecerdasan yang tinggi, hal ini tidak selamanya benar karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar seperti yang disebutkan di atas. Faktor-faktor tersebut perlu sekali untuk dioptimalkan sedini mungkin sehingga nantinya akan diperoleh hasil atau prestasi yang memuaskan. Sikap merupakan faktor yang mempunyai peranan penting dalam pembentukan karakter seseorang tetapi sikap juga merupakan motivasi yang sangat penting terhadap tingkah laku dan mempengaruhi seluruh pribadi seseorang.
Dari faktor-faktor diatas menimbulkan suatu pertanyaan, seperti apa dan bagaimana proses perkembangan individu.
B. PERMASALAHAN
Dewasa ini perkembangan teknologi sudah semakin pesat dan, telah memasuki berbagai sendi-sendi dalam kehidupan manusia, seperti dalam bidang pendidikan, ekonomi, sosial, transportasi dan lain-lain. Hampir semua bidang telah menggunakan berbagai macam sarana dan prasarana hasil dari temuan teknologi.
Televisi merupakan salah satu hasil dari kemajuan teknologi yang sudah tidak asing lagi. Televisi bahkan sudah menjadi kebutuhan dalam suatu keluarga, setiap rumah hampir dipastikan memiliki pesawat televisi. Memang dengan televisi orang dapat mengakses informasi dengan cepat, orang dapat mengetahui kejadian-kejadian yang terjadi di Indonesia dan dunia dengan cepat lewat berita-berita yang ditayangkan, televisi juga sebagai sarana hiburan. Selain dampak positif diatas ternyata televisi juga mempunyai dampak negatif, salah satunya terhadap perkembangan anak. Tayangan-tayangan televisi dewasa ini memang terbilang cukup beragam, baik itu tayangan yang mendidik maupun yang kurang atau bahkan bahkan tidak mendidik sana sekali. Mungkin kita sering melihat anak kecil bermain dengan memainkan tokoh atau peran karakter dari sebuah acara televisi atau film, misalnya film upin dan ipin yang sedang popoler sekarang yang memang khusus buat anak kecil.
Akhir-akhir ini banyak sekali acara-acara televisi yang kurang mendidik yang ditayangkan televisi terutama televisi swasta, dan ini sedikit banyak mempengaruhi perkembangan seorang anak, contohnya banyak sinetron atau film yang menampilakan keglamoran, kemewahan, adegan sexual, dan bahkan kekerasan. Adegan-adegan di film seperti kekerasan akan mengganggu pikiran dan perkembangan anak, si anak cenderung menjadi lebih bersifat agresif dan meniru adegan perkelahian seperti dalam film, atau anak jadi lebih bersifat lebih konsumtif akibat dari film atau sinetron yang banyak menampilkan kemewahan. Bahkan anak yang berusia 6-11, atau anak usia SD sudah mengenal apa itu “ciuman”, bercinta, bersmesraan dll. Padahal anak seusia tersebut belum pantas atau belum waktunya mengetahui hal-hal seperti itu. Sehingga anak-anak atau remaja banyak yang sudah kelihatan “Dewasa” padahal usianya relatif muda dan belum bisa dikatakan dewasa. Disini jelas terlihat adanya perkembangan yang sedikit menyimpang. Seperti diketahui pekembangan individu itu berkembang secara bertahap dan sifat atau tindakan anak biasanya sesuai tingkatan usia, seperti anak usia sekolah SD atau SLTP seharusnya bersikap dan bertindak seperti anak sekolah SD atau SLTP, akan tetapi ada diantaranya yang bertindak tidak seperti anak usia mereka. Jelaslah bahwa teknologi terutama televsi dan internet mempengaruhi perkembangan individu anak.
1. Seperti apa dan bagaimanakah proses perkembangan yang terjadi pada setiap individu?
2. Apa yang terjadi pada perkembangan individu sebagai dampak atau akibat dari menonton Televisi?
3. Mengapa teknologi terutama televisi berpengaruh terhadap perkembangan Individu?
4. Apa yang seharusnya dilakukan individu dalam menghadapi pengaruh menonton televisi?
BAB II
ANALISIS
I. Analisis Teori
A. Definisi Perkembangan
Perkembangan (development) adalah proses atau tahapan pertumbuhan kea rah yang lebih maju. Pertumbuhan sendiri (growth) berarti tahapan peningkatan sesuatu dalam hal jumlah, ukuran, dan arti pentingnya. Pertumbuhan juga berarti sebuah tahapan perkembangan a stage of development (McLeod, 1989)
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1991), “perkembangan” adalah perihal berkembang, selanjutnya, kata “berkembang” menurut KBBI ini berarti mekar terbuka atau membentang, menjadi besar, luas, dan banyak, serta menjadi bertaambah sempurna dalam hal kepribadian, pikiran, pengetahuan, dan sebagainya. Dengan demikian kata berkembang tidak hanya meliputi aspek yang bersifat abstrak seperti pikiran dan pengetahuan, tetapi juga meliputi aspek yang bersifat konkret.
Dalam Dictionary of Psychology (1972) dan The Penguin Dictionary of Psychology (1988), arti perkembangan pada prinsipnya adalah tahapan-tahapan perubahan yang progresif yang trjadi dalam rentang keihdupan manusia dan organism lainnya, tanpa membedakan aspek-aspek yang terdapat dalam diri organism-organisme tersebut.
Menurut Akhmad Sudrajat, M.Pd. Perkembangan dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis, progresif dan berkesinambungan dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya.
Berdasarkan uraian-uraian di atas, penyusun menyimpulkan perkembangan sebagai rentetan perubahan jasmani dan rohani manusia sejak lahir hingga akhir hayatnya secara sistematis menuju kea rah yang lebih maju dan sempurna dari sebelumnya.
B. Ciri-Ciri Umum Perkembangan Individu
Perkembangan individu mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut :
a. Terjadinya perubahan dalam aspek :
1. Fisik; seperti : berat dan tinggi badan.
2. Psikis; seperti : berbicara dan berfikir.
b. Terjadinya perubahan dalam proporsi.
1. Fisik; seperti : proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya.
2. Psikis; seperti : perubahan imajinasi dari fantasi ke realistis.
c. Lenyapnya tanda-tanda yang lama.
1. Fisik; seperti: rambut-rambut halus dan gigi susu, kelenjar thymus dan kelenjar pineal.
2. Psikis; seperti : lenyapnya masa mengoceh, perilaku impulsif.
d. Diperolehnya tanda-tanda baru.
1. Fisik; seperti : pergantian gigi dan karakteristik sex pada usia remaja, seperti kumis dan jakun pada laki dan tumbuh payudara dan menstruasi pada wanita, tumbuh uban pada masa tua.
2. Psikis; seperti berkembangnya rasa ingin tahu, terutama yang berkaitan dengan sex, ilmu pengetahuan, nilai-nilai moral dan keyakinan beragama.
C. Aspek-aspek perkembangan Individu
a. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik individu mencakup aspek-aspek :
1. Perkembangan anatomis; adanya perubahan kuantitatif pada struktur tulang, indeks tinggi dan berat badan, proporsi tinggi kepala dengan tinggi garis keajegan badan secara secara keseluruhan.
2. Perkembangan fisiologis; ditandai dengan adanya perubahan secara kualitatif, kuantitaif dan fungsional dari sistem kerja biologis, seperti konstraksi otot-otot, peredaran darah dan pernafasan, persyarafan, sekresi kelenjar dan pencernaan.
Laju perkembangan berjalan secara berirama, pada masa bayi dan kanak-kanak perubahan fisik sangat pesat, pada usia sekolah menjadi lambat, mulai masa remaja terjadi amat mencolok. Kemudian, pada permulaan masa remaja akhir bagi wanita dan penghujung masa remaja akhir bagi pria, laju per- kembangan menurun sangat lambat bahkan menjadi mapan.
b. Perkembangan Motorik
Dalam psikologi, kata motor diartikan sebagai istilah yang menunjuk pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan oto-otot juga sekresinya (pengeluaran cairan/getah). Secara singkat, motor dapat pula dipahami sebagai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rangsangan terhadap kegiatanorgan-organ fisik.
c. Perkembangan Bahasa
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang membedakan antara manusia dengan hewan. Melalui bahasa, manusia, mengkodifikasikan, mencatat, menyimpan, mengekspresikan dan mengkomunikasikan berbagai informasi, baik dalam bentuk lisan, tulisan, gambar, lukisan gerak - gerik, dan mimik serta simbol ekspresif lainnya. Perkembangan bahasa dimulai dengan masa meraban, bicara monolog, haus nama-nama, gemar bertanya yang tidak selalu harus dijawab, membuat kalimat sederhana, dan bahasa ekspresif dengan belajar menulis, membaca dan menggambar permulaan.
d. Perkembangan Kognitif
Istilah “cognitive” berasal dari kata cognition yang padanannya knowing, berarti mengetahui. Dalam arti yang luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976).
Sebagian besar ahli psikologi terutama kognitivis (ahli psikologi kognitif) berkeyakinan bahwa proses perkembangan kognitif manusia mulai berlangsung sejak ia baru lahir. Menurut para kognitivis, pendayagunaan kapasitas ranah kognitif manusia sudah mulai berjalan sejak manusia itu mulai mendayagunakan kapasitas motor dan sensorinya.
Jean Piaget (sebut: Jin Piasye), (1896-1980) mengklasifikasikan perkembangan kognitif anak menjadi empat tahapan:
1. Tahap sensory-motor yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 0-2 tahun
Inteligensi sensori-motor dipandang sebagai inteligensi praktis (practical intelligence), yang berfaedah untuk belajar berbuat terhadap lingkungannya sebelum mampu berfikir mengenai apa yang sedang ia perbuat. Inteligensi individu pada tahap ini masih bersifat primitif, namun merupakan inteligensi dasar yang amat berarti untuk menjadi fondasi tipe-tipe inteligensi tertentu yang akan dimiliki anak kelak. Sebelum usia 18 bulan, anak belum mengenal object permanence. Artinya, benda apapun yang tidak ia lihat, tidak ia sentuh, atau tidak ia dengar dianggap tidak ada meskipun sesungguhnya benda itu ada. Dalam rentang 18 - 24 bulan barulah kemampuan object permanence anak tersebut muncul secara bertahap dan sistematis.
2. Tahap pre-operational,yakni perkembangan ranah kognitif yang terjadi pada usia 2-7 tahun
Pada tahap ini anak sudah memiliki penguasaan sempurna tentang object permanence. Artinya, anak tersebut sudah memiliki kesadaran akan tetap eksisnya suatu benda yang harus ada atau biasa ada, walaupun benda tersebut sudah ia tinggalkan atau sudah tak dilihat, didengar atau disentuh lagi. Jadi, pandangan terhadap eksistensi benda tersebut berbeda dengan pandangan pada periode sensori motor, yakni tidak bergantung lagi pada pengamatannya belaka. Pada periode ditandai oleh adanya egosentris serta pada periode ini memungkinkan anak untuk mengembangkan diferred-imitation, insight learning dan kemampuan berbahasa, dengan menggunakan kata-kata yang benar serta mampu mengekspresikan kalimat-kalimat pendek tetapi efektif.
3. Tahap concrete-operational tarjadi pada usia 7-11 tahun
Pada periode ditandai oleh adanya tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berfikir) yang bermanfaat untuk mengkoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam pemikirannya sendiri. Pada dasarnya perkembangan kognitif anak ditinjau dari karakteristiknya sudah sama dengan kemampuan kognitif orang dewasa. Namun masih ada keterbatasan kapasitas dalam mengkoordinasikan pemikirannya. Pada periode ini anak baru mampu berfikir sistematis mengenai benda-benda dan peristiwa-peristiwa yang konkret.
4. Tahap formal-operational terjadi pada usia11-15 tahun
Pada periode ini seorang remaja telah memiliki kemampuan mengkoordinasikan baik secara simultan maupun berurutan dua ragam kemampuan kognitif yaitu :
a. Kapasitas menggunakan hipotesis
Kemampuan berfikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang dia respons dan kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak.
b. Kapasitas menggunakan prinsip-prinsip abstrak
Kemampuan untuk mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak secara luas dan mendalam.
e. Perkembangan Moralitas
Ketika individu mulai menyadari bahwa ia merupakan bagian dari lingkungan sosial dimana ia berada, bersamaan itu pula individu mulai menyadari bahwa dalam lingkungan sosialnya terdapat aturan-aturan, norma-norma/nilai-nilai sebagai dasar atau patokan dalam berperilaku. Keputusan untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan norma yang berlaku dan nilai yang dianutnya itu disebut moralitas.
Ada dua macam studi yang dilakukan Piaget mengenai perkembangan moral anak dan remaja, yakni:
1) Melakukan observasi terhadap sejumlah anak yang bermain kelereng dan menanyai mereka tentang aturan yang mereka ikuti.
2) Melakukan tes dengan menggunakan beberapa kisah yang menceritakan perbuatan salah dan benar yang dilakukan anak-anak, lalu meminta responden (yang terdiri atas anak dan remaja) untuk menilai kisah-kisah tersebut berdasarkan pertimbangan moral mereka sendiri.
Dari hasil studi di atas Piaget mengemukakan dua tahap perkembangan moral anak dan remaja, diantara kedua tahap tersebut diselingi masa transisi.
Teori Dua Tahap Perkembangan Moral Versi Piaget
| Usia | Tahap | Ciri Khas |
| 4-7 tahun | Realisme moral | 1. Memusatkan pada akibat-akibat perbuatan 2. Aturan-aturan tak berubah 3. Hukuman atas pelanggaran bersifat otomatis |
| 7-10 tahun | Masa transisi (konkret-operasional) | Perubahan secara bertahap kepemilkan moral tahap kedua |
| 11 tahun ke atas | Otonomi moral, realism, dan resiprositas (formal-operasional) | 1. Mempertimbangkan tujuan-tujuan perilaku moral 2. Menyadari bahwa aturan moral adalah kesepakatan tradisi yang dapat berubah |
f. Perkembangan Keagamaan
Dengan melalui pertimbangan fungsi afektif, kognitif, dan konatifnya, pada saat-saat tertentu, individu akan meyakini dan menerima tanpa keraguan bahwa di luar dirinya ada sesuatu kekuatan yang maha Agung yang melebihi apa pun, termasuk dirinya. Penghayatan seperti itu disebut pengalaman keagamaan (religious experience) (Zakiah Darajat, 1970). Brightman (1956) menjelaskan bahwa penghayatan keagamaan tidak hanya sampai kepada pengakuan atas kebaradaan-Nya, namun juga mengakui-Nya sebagai sumber nilai-nilai luhur yang abadi yang mengatur tata kehidupan alam semesta raya ini. Oleh karena itu, manusia akan tunduk dan berupaya untuk mematuhinya dengan penuh kesadaran dan disertai penyerahan diri dalam bentuk ritual tertentu, baik secara individual maupun kolektif, secara simbolik maupun dalam bentuk nyata kehidupan sehari-hari.
Abin Syamsuddin (2003) menjelaskan tahapan perkembangan keagamaan sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :
| Tahapan | Ciri-Ciri |
| Masa Kanak-Kanak | Sikap reseptif meskipun banyak bertanya |
| Pandangan ke-Tuhan-an yang dipersonifikasi | |
| Penghayatan secara rohaniah yang belum mendalam | |
| Hal ke-Tuhan-an dipahamkan secara ideosyncritic (menurut khayalan pribadinya) | |
| Masa Sekolah | Sikap reseptif yang disertai pengertian |
| Pandangan ke-Tuhan-an yang diterangkan secara rasional | |
| Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, melaksanakan kegiatan ritual diterima sebagai keharusan moral | |
| Masa Remaja Awal | Sikap negatif disebabkan alam pikirannya yang kritis melihat realita orang – orang beragama yang hypocrit (pura-pura) |
| Pandangan ke-Tuhan-an menjadi kacau, karena beragamnya aliran paham yang saling bertentangan | |
| Penghayatan rohaniahnya cenderung skeptik, sehingga banyak yang enggan melaksanakan ritual yang selama ini dilakukan dengan penuh kepatuhan | |
| Masa Remaja Akhir | Sikap kembali ke arah positif, bersamaan dengan kedewasaan intelektual bahkan akan agama menjadi pegangan hidupnya |
| Pandangan ke-Tuhan-an dipahamkannya dalam konteks agama yang dianut dan dipilihnya | |
| Penghayatan rohaniahnya kembali tenang setelah melalui proses identifikasi dan merindu puja, ia dapat membedakan antara agama sebagai doktrin atau ajaran manusia |
g. Perkembangan Emosional dan perkembangan afektif
Aspek emosional dari suatu perilaku, pada umumnya selalu melibatkan tiga variabel, yaitu : (1) rangsangan yang menimbulkan emosi (stimulus); (2) perubahan–perubahan fisiologis yang terjadi pada individu; dan (3) pola sambutan. Yang mungkin dirubah dan dipengaruhi adalah variabel yang kesatu (stimus) dan yang ketiga (respons), sedangkan variabel yang kedua merupakan yang tidak mungkin dirubah karena terjadinya pada individu secara mekanis. Terdapat dua dimensi emosional yang sangat penting untuk dipahami yaitu : (1) senang – tidak senang (suka-tidak suka); dan (2) intensitasnya (kuat-lemah). Bridges (Loree, 1970) menjelaskan proses perkembangan dan diferensiasi emosional pada anak-anak, sebagai berikut :
| Usia | Ciri-Ciri |
| Pada saat dilahirkan | Bayi dilengkapi kepekaan umum terhadap rangsangan – rangsangan tertentu (bunyi, cahaya, temperatur) |
| 0 - 3 bln | Kesenangan dan kegembiraan mulai didefinisikan dari emosi orang tuanya |
| 3 – 6 bln | Ketidaksenangan berdiferensiasi ke dalam kemarahan, kebencian dan ketakutan |
| 9 – 12 bln | Kegembiraan berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang |
| 18 bulan pertama | Kecemburuan mulai berdiferensiasi ke dalam kegairahan dan kasih sayang |
| 2 th | Kenikmatan dan keasyikan berdiferensiasi dari kesenangan |
| 5 th | Ketidaksenangan berdiferensiasi di dalam rasa malu, cemas dan kecewa sedangkan kesenangn berdiferensiasi ke dalam harapan dam kasih sayang |
h. Perkembangan Perilaku Konatif
Perilaku konatif merupakan perilaku yang berhubungan dengan motivasi atau faktor penggerak perilaku seseorang yang bersumber dari kebutuhan-kebutuhannya. Freud (Di Vesta & Thompson dalam Abin Syamsuddin,2003) mengemukakan tentang tahapan-tahapan perkembangan perilaku yang berhubungan obyek pemuasan psychosexual, sebagaimana tampak dalam tabel berikut ini :
| Daerah Sensitif | Cara Pemuasan | Sasaran Pemuasan |
| A. MASA BAYI DAN KANAK-KANAK (INFANCY PERIOD) | ||
| Pre Genital Period | Infantile Sexuality | |
| Oral Stage | | Mulut dan benda |
| Early Oral | Menghisap ibu jari | Mulut sendiri, memilih dan memasukkan benda kemulut Memilih benda dan digigitnya secara sadis |
| Late Oral | Menggigit, merusak dengan mulut | |
| Anal Stage | | Dubur dan benda |
| Early Anal | Memeriksa dan memainkan duburnya | Memilih benda dan menyentuhnya/memasukkan ke dubur |
| Late Anal | Memainkan dan memperhatikan duburnya | |
| Early Genital Period (phalic stage) | Menyentuh, memegang, melihat, menunjukkan alat kelaminnya | Ditujukan kepada orang tuanya (oediphus atau electra phantaties) |
| B. MASA ANAK SEKOLAH (LATENCY PERIOD) | ||
| No New Zone (tidak ada daerah sensitif baru) | Represi Reaksi formasi Sublimasi dan kecen- derungan kasih sayang | Berkembangnya perasaan–perasaan sosial |
| C. MASA REMAJA (ADOLESENCE PERIOD) | ||
| Late Genital Period | | |
| Hidup kembali daerah sensitif waktu masa kanak-kanak | Mengurangi cara-cara waktu masa kanak-kanak | Menyenangi diri sendiri (narcisism) atau objeck oediphus-nya Objek pemuasannya mungkin diri sendiri/sejenis (homosexual) atau lain jenis (heterosexual) |
| Akhirnya, siap berfungsinya alat kelamin | Munculnya cara orang dewasa memperoleh pemuasan | |
i. Perkembangan Kepribadian
Meskipun kepribadian seseorang itu relatif konstan, namun dalam kenyataannya sering ditemukan bahwa perubahan kepribadian dapat dan mungkin terjadi, terutama dipengaruhi oleh faktor lingkungan dari pada faktor fisik.
Erikson dalam Nana Syaodih Sukmadinata, 2005 mengemukakan tahapan perkembangan kepribadian dengan kecenderungan yang bipolar :
1. Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.
2. Masa kanak-kanak awal (early childhood) ditandai adanya kecenderungan autonomy – shame, doubt. Pada masa ini sampai-batas-batas tertentu anak sudah bisa berdiri sendiri, dalam arti duduk, berdiri, berjalan, bermain, minum dari botol sendiri tanpa ditolong oleh orang tuanya, tetapi di pihak lain dia ga telah mulai memiliki rasa malu dan keraguan dalam berbuat, sehingga seringkali minta pertolongan atau persetujuan dari orang tuanya.
3. Masa pra sekolah (Preschool Age) ditandai adanya kecenderungan initiative – guilty. Pada masa ini anak telah memiliki beberapa kecakapan, dengan kecakapan-kecakapan tersebut dia terdorong melakukan beberapa kegiatan, tetapi karena kemampuan anak tersebut masih terbatas adakalanya dia mengalami kegagalan. Kegagalan-kegagalan tersebut menyebabkan dia memiliki perasaan bersalah, dan untuk sementara waktu dia tidak mau berinisatif atau berbuat.
4. Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
5. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan–kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitas diri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
6. Masa Dewasa Awal (Young adulthood) ditandai adanya kecenderungan intimacy – isolation. Kalau pada masa sebelumnya, individu memiliki ikatan yang kuat dengan kelompok sebaya, namun pada masa ini ikatan kelompok sudah mulai longgar. Mereka sudah mulai selektif, dia membina hubungan yang intim hanya dengan orang-orang tertentu yang sepaham. Jadi pada tahap ini timbul dorongan untuk membentuk hubungan yang intim dengan orang-orang tertentu, dan kurang akrab atau renggang dengan yang lainnya.
7. Masa Dewasa (Adulthood) ditandai adanya kecenderungan generativity – stagnation. Sesuai dengan namanya masa dewasa, pada tahap ini individu telah mencapai puncak dari perkembangan segala kemampuannya. Pengetahuannya cukup luas, kecakapannya cukup banyak, sehingga perkembangan individu sangat pesat. Meskipun pengetahuan dan kecakapan individu sangat luas, tetapi dia tidak mungkin dapat menguasai segala macam ilmu dan kecakapan, sehingga tetap pengetahuan dan kecakapannya terbatas. Untuk mengerjakan atau mencapai hal – hal tertentu ia mengalami hambatan.
8. Masa hari tua (Senescence) ditandai adanya kecenderungan ego integrity – despair. Pada masa ini individu telah memiliki kesatuan atau intregitas pribadi, semua yang telah dikaji dan didalaminya telah menjadi milik pribadinya. Pribadi yang telah mapan di satu pihak digoyahkan oleh usianya yang mendekati akhir. Mungkin ia masih memiliki beberapa keinginan atau tujuan yang akan dicapainya tetapi karena faktor usia, hal itu sedikit sekali kemungkinan untuk dapat dicapai. Dalam situasi ini individu merasa putus asa. Dorongan untuk terus berprestasi masih ada, tetapi pengikisan kemampuan karena usia seringkali mematahkan dorongan tersebut, sehingga keputusasaan acapkali menghantuinya.
Kedelapan tahapan perkembangan kepribadian dapat digambarkan dalam tabel berikut ini :
| Developmental Stage | Basic Components |
| Infancy Early childhood Preschool age School age Adolescence Young adulthood Adulthood Senescence | Trust vs Mistrust Autonomy vs Shame, Doubt Initiative vs Guilt Industry vs Inferiority Identity vs Identity Confusion Intimacy vs Isolation Generativity vs Stagnation Ego Integrity vs Despair |
II. Analisis Permasalahan
Dari uraian tentang perkembangan individu yang telah dikemukakan diatas ternyata dapat diambil kesimpulan bahwa ternyata yang perlu diperhatikan adalah pada masa usia sekolah dasar dan menengah, dimana pada masa itu anak cenderung memiliki rasa ingin tahu dan ingin belajar yang tinggi. Tayangan-tayangan dari televisi sangat besar pengaruhnya pada masa-masa tersebut, terutama pada faktor psikis, dan faktor moral, faktor fisik tidak begitu terpengaruh karena memang perkembangan fisik datangnya dari dalam, bukan dari luar. Anak cenderung akan mengikuti tren atau apa-apa yang dia lihat dari televisi ataupun internet.
Ø Mengapa teknologi terutama televisi berpengaruh terhadap perkembangan Individu?
Dalam perkembangannya anak-anak tidak terlepas dari pengaruh-pengaruh luar atau lingkungan yang biasa di sebut environment, Televisi merupakan salah satu faktor luar yang ikut mempengaruhi perkembangan individu anak. Anak-anak yang cenderung memiliki rasa ingin tahu yang besar selalu berusaha untuk mencari informasi melalui televisi.
Jadi mengapa perkembangan teknologi terutama televisi berpengaruh terhadap perkembangan anak, hal itu lebih disebabkan karena teknologi sudah merupakan bagian dari kehidupan dalam segala aspek, dan disebabkan pula oleh rasa ingin tahu anak pada usia-usia yang memang penuh dengan rasa ingin tahu dan selalu berusaha mencari dunia baru yang dianggap menarik bagi dirinya.
Ø Bagaimana mengatasi atau menyikapinya?
Sebenarnya cara mengatasi dan menyikapi pengaruh negatif dari teknologi terutama dari televisi bisa di lakukan dengan mudah dan baik asalkan semua pihak ikut bekerja sama dan terlibat didalamnya. Orang tua hendaknya selalu mengawasi tayangan-tayangan televisi yang dikonsumsi oleh anak-anak mereka, dan juga setiap stasiun televisi harus memberikan rating yang jelas pada acara yang sedang disiarkan apakah untuk anak-anak, remaja, atau dewasa. Sehingga pengaruh negatif dapat di cegah dan dikurangi, dan diharapkan dengan begitu perkembangan individu anak dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tingkatan usia dan perkembangan mereka yang wajar tanpa adanya penyimpangan-penyimpangan seperti yang telah di uraikan sebelumnya
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kemajuan teknologi di berbagai bidang telah membawa pengaruh besar terhadap kehidupan individu, segala aspek kehidupan kini telah memanfaatkan teknologi yang telah dicapai, seperti penggunaan televisi. Tayangan- tayangan dari televisi ternyata dapat memberikan pengaruh terhadap perkembangan anak, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif, tetapi yang menjadi sorotan adalah dampak negatifnya karena dampaknya sangat terasa dan terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat melihat bagaimana seorang anak, contohnya anak perempuan yang sudah terlihat dewasa dari usia sebenarnya ini dapat dilihat dari penampilan dan sikapnya, dan bagaimana seorang anak bersifat agresif ketika bermain dengan teman-temannya mencontoh karakter dalam sinetron atau film action yang penuh kekerasan, dan anak yang bersikap konsumtif setelah melihat sinetron yang menonjolkan harta dan kemewahan, juga kasus-kasus asusila yang dilakukan anak akibat melihat gambar-gambar maupun film dari situs porno sebagai akibat rusaknya moral atau perkembangan moral.
Akibat-akibat negatif yang ditimbulkan dari teknologi terutama dari televisi mungkin cukup mengerikan bagi anak dan perkembangannya, akan tetapi dengan penanganan yang benar dan tepat, dan dengan keterlibatan semua pihak kemungkinan- kemungkinan seperti itu dapat dicegah atau dikurangi, karena bagaimanapun manusia tidak lepas dari pengaruh teknologi, baik itu yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif.
DAFTAR PUSTAKA
Makmun, Abin Syamsuddin. 2007. Psikologi Kependidikan, Perangkat Sistem Pengajaran Modul, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muhibbin Syah. 2010. Psikologi Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sudrajat, Akhmad. 2006. Pokok - Pokok Materi Perkuliahan Psikologi Pendidikan, Kuningan.
google search/perkembangan individu.